Kamis, 07 Juni 2007

PERJUANGAN DIMULAI DARI DIRI

Ketika mahasiswa, aku ingin memperbaiki dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit melakukannya, aku putuskan untuk mereformasi negaraku saja. Akupun sadar ternyata negaraku Indonesia tercinta berubah makin parah. Kalau dulu praktek KKN hanya pada lingkaran Cendana, semenjak reformasi KKN menjadi budaya dan gaya hidup pejabat mulai dari tingkat pusat sampai ke desa, dari Presiden sampai ketua Rukun Tetangga, dari pegawai negeri sampai pegawai swasta. Dulunya dilakukan malu-malu sekarang terbuka. Korupsi adalah biasa, sehingga orang jujur bisa jadi musuh bersama. Aku lelah dan mulai berpikir untuk memperbaiki propinsiku Riau tercinta dengan masyarakat tempatan yang miskin papa. Perjalanan waktu menyadarkanku, tidak mudah mengubah Riauku. Dulu katanya Riau miskin karena Pemerintah Pusat congkak, gubernurnya bukan orang Riau, semua hasil bumi dirampas dengan alasan untuk kemakmuran Indonesia. Ternyata setelah reformasi, disonsong Otonomi Daerah, Riau dipimpin oleh putra daerahnya sendiri dan Dana Bagi Hasil mengalir membasahi bumi Lancang Kuning. Mengapa Riau masih miskin? Mengapa masyarakat tempatan (Melayu) tetap menganggur, tetap bodoh, tetap tertinggal dan sekarang dijajah pula oleh saudaranya sendiri. Apakah tuntutan DBH jawabannya? Apa perlu Otsus ataupun melanjutkan opsi Riau Merdeka? Jawabannya sederhana, andaikan Riau jadi sebuah negara sekalipun dimana semua kekayaan diatas tanah dan dalam bumi diserahkan semua, tidak akan berarti apa-apa. Jika sikap, perilaku dan mental kita masih sama. Bukankah Singapura kecil dan tidak ada SDA-nya, tidak jauh beda dengan Swiss yang tidak memiliki perkebunan Coklat tapi dikenal pembuatan coklat terenak di dunia, Swiss tidak memiliki peternakan sapi dan domba tetapi dikenal dengan produk Nestle-nya atau lihatlah Jepang dimana 80% wilayah pegunungan tapi menjadi raksasa ekonomi dunia. Sebab kondisinya tidak jauh berbeda, pejabat, pengusaha, kontraktor, politisi, kroni dan keluarganya makin kaya raya, disisi lain masyarakatnya tetap miskin, bodoh dan menderita. Setelah 30 tahun meninggalkan Tanah Kelahiran Bagan Siapi-api, saya mencoba pulang, yang berubah hanya gedung, jalan dan jembatan dari aspek manusianya sama, tidak ada peningkatan secara signifikan. Sayapun kembali ke kampung halaman Sungai Apit setelah 21 tahun merantau di Pekanbaru, Duri, Pekanbaru dan Pangkalan Kerinci, kondisinya pun tak jauh beda. Masyarakat tempatan terpuruk disudut-sudut dusun Seliau, Teluk Batil, Sungai Bayam, pinggiran tebing Kayu Ara, Lalang, Bunsur dan Mengkapan. Maka akupun berpikir untuk memperbaiki keluargaku saja, komunitas masyarakat Melayu yang miskin di muara Sungai Siak dan semenanjung Selat Lalang. Ternyata juga hasilnya sama, budaya Melayu yang tersirat dari budaya bahari yang melambangkan keulatan, pantang menyerah, berani, jujur dan gagah perkasa terkikis semua. Kutemui dalam nyata hanya masyarakat yang makin marginal, miskin secara ekonomi dan terpinggir dari aspek pendidikan, sosial, politik dan budaya. Di Riau menjamur organisasi yang memakai embel-embel Melayu, umumnya jadi organisasi papan nama, ataupun bergaya preman dengan jalan meminta-minta. Kalau ketuanya kebetulan Tokoh maka organisasi itupun jadi benalu yang berebutan menyusu dan menghisap APBD untuk kegiatan yang tidak bermuara pada pemberdayaan masyarakat Melayu. Bermilyar-milyar uang rakyar Riau hanya habis untuk kegiatan ORMAS, seremornial dan event-event. Diberbagai sudut perkampungan dan hutan Riau, Melayu terus terpinggir dalam kemiskinan, kebodohan dan ketidak berdayaan. Kini aku mulai merasa sangat renta dalam usia yang terbilang muda, ternyata merubah keluargaku yang bernama Melayu Riau juga sulit melakukannya. Sebab Melayu adalah alasan pembenaran kelompok dan orang-orang yang sedang mencari makan dan kekayaan. Yang muncul dotrinasi sempit tentang ”Ke-Melayuan” yang bermuara pada posisi yang makin menjepit komunitas Melayu sebenaranya. Jelas sejarah mengukir keterbukaan Melayu yang membuat kegemilangan Siak dan Riau Lingga. Hari ini Melayu dibenturkan dalam dikotomi Putra Daerah dan Pendatang, siapa sebenarnya pemilik Riau. Apakah ini menguntungkan buat Riau? Apakah masih relevan dengan situasi kekinian? Yang dibutuhkan adalah kerjasama dan saling memahami antara masyarakat Riau tempatan dan pendatang akan hak, kewajiban dan kedudukan masing-masing, ”Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung, dimana air disauk disitu ranting dipatahkan”. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri. Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah, memberdayakan dan meningkatkan potensi diriku, aku pasti bisa mengubah keluargaku (Melayu). Pada akhirnya aku akan mengubah propinsiku, negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini. Sering dalam tidur aku bermimpi tampil menjadi pemimpin negeri ini dengan pendidikan tinggi membawa konsep yang jelas dan terukur untuk merubah wajah negeri, menggandeng suku Batak, Minang atau Jawa jadi Wagubri, kuat secara ekonomi sehingga tidak perlu cari sponsor dari cukong kayu, pengusaha huburan dan judi atau pengusaha pasir laut. Dikenal dan mengakar karena budi pekerti, sikap dan memegang nilai-nilai keagamaan. Mengabdikan diri mewujudkan Riau yang bermarwah dan berharga diri. Sayang itu hanya mimpi sebab realitas politik hari ini belum memungkinkan itu terjadi. Aduuuuuhh Riauku malang nian nasibmu.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda