Kamis, 07 Juni 2007

REFLEKSI SEORANG MANTAN AKTIVIS MAHASISWA

Keterlibatan saya pada kegiatan-kegiatan kemahasiswaan semasa kuliah dulu, terjadi ketika saya terantuk pada ganjalan akademik, terutama suasana pendidikannya. Selain itu organisasi –organisasi mahasiswa masih berdiri dengan angkuhnya, menyimpan bayang-bayang gegelapan, kebodohan dan kering kreativitas. Seorang mahasiswa yang out spoken dan kritis, yang datang dari kampus untuk mengasah intelegensia, nampaknya akan menemukan kehidupannya dalam kencah hiruk pikuk kehidupan organisasi yang jauh dari nafas akademik. Dunia akademik terkesan sebagai dunia yang arogan, sepi, kutu buku dan membutuhkan pemikiran kaku karena lebih banyak dihidupi oleh kultus kepada para dosen-dosen yang berebut perhatian mahasiswa dengan menjual almamater masing-masing. Perguruan tinggi tak lebih dari tempat orang-orang mencari sehelai kertas ijazah, tempat mencari jodoh, ataupun alasan untuk memperlambat masa menganggur. Dan saya salah satu sisa-sisa peristiwa demikian, meskipun setelah saya timbang-timbang masa tersebut adalah masa transisi bentuk-bentuk kegiatan dan kepedulian kemahasiswaan. Saya menyaksikan surutnya kegiatan-kegiatan yang semula berputar dicelah politik dan pasangnya kegiatan kemahasiswaan yang lebih independen. Namun indenpendensi itu segera ditangkap oleh penguasa, kerena saya juga ikut mengenyam asam garamnya sebuah konsep SMPT. Konsep SMPT tidak lebih dari upaya mematikan peran politik yang seyogyanya dapat dimainkan oleh mahasiswa yang bermuara pada upaya pembelokan minat-minat politis mahasiswa kepada kehendak dan kemauan pemerintah pada saat itu. Jangan heran kalau pada masa itu pengadilan teradap penghianatan mahasiswa begitu marak walaupun pada akhirnya mereka dipuja dan dianggap tokoh akibat kemaruk dan miskinnya organisasi kemahasiswaan yang selalu meminta derma. Disisi lain pergerakan masiswa juga kerap dihiasi penampilan badut-badut yang berpenampilan lucu dan tidak tahu malu. Apakah itu kerugian atau keuntungan, barangkali secara reflektif sudah dapat kita menimbangnya, apalagi historiografinya dicatat seperti apa adanya lugas dan jujur. Masalahnya sudah ada kesan beberapa rekan yang dahulunya menghujat disaat berada diluar sistem lembaga kemahasiswaan, bahwa kami tidak tegas, tidak tegar, kurang konsisten dan tidak idealis, ternyata tidak dapat berbuat lebih baik pada saat diberikan kesempatan untuk duduk dikursi panas itu. Kenyataan yang ada kantor dihiasi bara api, uang kemahasiswaan katanya habis untuk demontrasi dan berbagai pertunjukan lainnya yang menggambarkan bahwa organisasi kemahasiswaan menjadi makin mandul dan tidak berdaya. Kehadiran saya di kursi yang katanya bergengsi, ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) Universitas Riau adalah buah dari kemuakan dengan sikap dan ketakutan akan kebangkitan sebuah generasi yang bercorak Melayu. Juga suatu perlawanan untuk menyadarkan sebuah rezim yang telah menjual isu berbagai isu termasuk agama untuk melanggengkan kekuasaan, walau nyatanya banyak kader yang tidak berkualitas dan mempermalukan organisasi. Jadi apakah ini buah perjuangan itu ? Selalu saya bertanya, ”Apakah salah jika SMPT Unri dipimpin oleh seorang ketua yang punya komitmen untuk memberikan nuansa Melayu dikampus yang katanya berada ditanah melayu?” Dilain sisi, pernah dengan latang saya tulis dibahana mahasiswa, jika ingin tanah melayu ini dipimpin putera daerahnya sendiri, maka langkah yang sederhana untuk mewujudkan semua itu adalah merebut semua jabatan yang ada dilembaga mahasiswa. Mulai dari ketua HIMA, HMJ, SMF, BPMF, UKM dan SMPT harus dipegang oleh orang yang komitmen terhadap melayu (sudah pasti tentunya orang melayu). Kalau jabatan ini saja masih lepas dari tangan kita , kan lucu untuk berkhayal yang menjadi gubernur dan bupatinya orang Melayu. Saya takut yang terjadi wajah seperti Melayu tapi sikap tidak mencerminkan adat resam orang Melayu. Saya bukan primodial, tetapi ternyata banyak diantara kita yang lupa dengan pepatah lama ,”masuk kandang kambing mengembek dan kalau masuk kandang harimau mengaum”. Maknanya sederhana; “ Tuan-tuan tolong memakai adat kebiasaan kami kalau hidup dibumi melayu ini, jadi jangan belagak dengan budaya dan kebiasaan tuan-tuan yang asing bagi kami”. Walau tekad itu hanya habis pada satu kepengurusan dan setelahnya pecah dan tidak berubah. Tapi yang terpenting bagi saya adalah, sejarah pernah mengukir suatu prestasi dimana budak-budak Melayu pernah menguasai telak seluruh jajaran fungsionaris SMPT Unri, menghiasinya dengan nuangsa Melayu dan meletakkan dasar yang kuat bagi kegiatan kemelayuan dan dasar lahirnya lembaga yang bernama Forkom SMPT Se-Riau yang saat menjelang ajal berubah nama menjadi Forkam LKPT Riau, yang sekarang sedang sekarat menunggu sakaratul maut. Alasan penarikan diri saya dari kancah organisasi bermuara dari perbedaan mendasar melihat sebuah konsep gerakan yang dibawa KAMAR 1997 (Kesatuan Aksi Mahasiswa Riau) yang pada awalnya saya motori bersama bang Ismail, bang Achmad Jamaan dan Jenewar. Waktu-waktu selanjutnya saya habiskan untuk mengejar segala tugas perkuliahan yang kerap tertinggal akibat keenakan dikegiatan organisasi, walaupun sebagian besar kawan-kawan seangkatan tahun 1993 makin memfokuskan diri di gerakan kemahasiswaan. Hikmah terbesar yang saya rasakan adalah kesempatan untuk menyelesaikan studi tepat waktu dengan indek prestasi yang tidaklah memalukan untuk seorang mantan presiden mahasiswa. Pada masa-masa itu saya merasa lebih nyaman menjadi penonton sambil menyelesaikan tugas skripsi. Terlihat gerakan reformasi yang mulai marak penuh dengan lelucon, cerita unik dan lucu. Saya lihat banyak badut-badut reformasi yang dulunya sangat alergi mendengar kata demontrasi, apalagi kalau yang dikritik dan didemo adalah kebijakan pemerintah, sekarang menjadi tokoh pergerakan. Saya juga hanya bisa berpingkal-pingkal melihat pola tingkah kawan-kawan yang berupaya menjadi tokoh reformasi dengan membentuk berbagai macam lembaga dan organisasi. Nnyatanya berhasil, Rata-rata sekarang mereka telah menjadi tokoh reformasi dan public figur di Riau ini. Masih sempat saya melihat satu persatu diantara mereka menjual reformasi demi sebuah ganti berupa materi, banyak diantara mereka sekarang sudah menjadi pengusaha muda, eksekutif muda dan juga politikus muda yang tentunya lengkap dengan segala aksesorisnya. Saat ini saya sudah berada diluar sistem. Pengamat adalah jabatan paling pas untuk saya jalani menyangkut aktivitas kemahasiswaan saat ini. Walaupun kadang terselip kesedihan disaat terdengar bisikan miring atas aktivitas kami yang tidak pernah dilihat dan dirasakan oleh generasi sekarang, tapi saya sadar itulah hidup yang selalu dibubuhi kepentingan-kepentingan. Semuanya telah terlalu, penyesalan hampir tidak ada, karena saya menyadari, akhirnya fungsi utama kegiatan kemahasiswaan yang saya jalani dulu adalah bagian dari kegiatan pelatihan untuk menghadapi status yang lebih panjang dan lebih mendasar dari pada status mahasiswa yaitu status kita sebagai manusia.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda