Senin, 10 Maret 2008

BANGGA KORUPSI Korupsi adalah tren baru bangsa kita. Korupsi bisa buat diri terkenal, korupsi bisa buat diri disanjung dan dihormati serta korupsi bisa buat diri jadi pahlawan dan jutawan. Korupsi dianggap sebuah kewajaran, korupsi bukan lagi sebuah aib tapi bukti bahwa diri pandai memanfaatkan situasi, peluang dan kesempatan. Barang siapa yang krasak kerusuk dianggap orang sirik yang ribut karena belum dapat bagian dan kesempatan. Semua orang berlomba mencari kesempatan untuk korupsi, semua orang mulai belajar korupsi sejak dini. Lembaga pendidikan yang seharusnya membentuk akhlak mulia bagi murid dan mahasiswanya ternyata tak mampu berbuat apa-apa. Godaan gaya hidup dan kesenangan dunia membuat banyak orang buta dan proaktif mencari jalan pintas. Jangan heran kalau lembaga pendidikan juga banyak ditemui calon-salon koruptor masa depan yang mulai korupsi kecil-kecilan sesuai skop lembaga, potensi dan peluang yang ada. Dilembaga kemahasiswaan yang katanya dapur kelahiran pemimpin bangsa beberapa tahun belakang ini vakum dan berkonflik panjang muara dari kasus korupsi juga. Berbagai kasus yang menghinggapi lembaga kemahasiswaan secara umum bermuara dari hilangnya kepercayaan anggota terhadap presiden mahasiswanya. Kepercayaan ini secara umum terjadi karena tidak adanya transparansi penggunaan dana kemahasiswaan ataupun penyalahgunaan dari peruntukannya. Kalau kita cermati secara baik pelaku tindak pidana korupsi dinegara ini semuanya keluar dari lembaga pendidikan malah banyak yang lahir dari perut lembaga pendidikan tinggi. Jadi dunia pendidikan kita seharusnya ikut bertanggungjawab terhadap kondisi bangsa saat ini. Sudah saatnya reformasi sistem pendidikan yang melahirkan generasi korup dan tidak bermoral Kasus korupsi yang menghinggapi tubuh KPU adalah sebuah realitas pahit bahwa kita semakin kehilangan patunan dan tokoh yang bisa dipercaya. Mencermati perjalanan panjang pengungkapan indikasi korupsi ditubuh KPU, menyadarkan kita bahwa bangsa kita sedang sekarat. Hari ini kita bingung mau percaya dengan siapa lagi. Banyak harapan yang disandarkan kepada pejabat KPU karena mereka adalah orang-orang yang diyakini bersih, memiliki kredibiltas baik, aktif digerakan moral, berasal dari kalangan akademis/ kampus, berlatar belakang organisasi yang selama ini terlah teruji sejarah. Siapa yang tidak kenal dengan Nazaruddin Sjamsuddin tokoh intelektual kampus, siapa yang tidak kenal dengan sepak terjang Mulyana W Kusumah semasa sebelum bergabung sebagai anggota KPU dan hampir seluruh aktivis mahasiswa mengenal sosok Anas Urbaningrum serta beberapa tokoh yang sekarang berprediket sebagai anggota KPU. Banyak harapan yang disandarkan kepada mereka untuk menjadi contoh, untuk menjadi suritaula dan bagaimana memposisikan diri kalau diberikan kepercayaan untuk menjalankan nasib bangsa. Ternyata mereka juga tidak jauh berbeda, sosok manusia lemah yang hanya bisa bicara dan pada saat dihadapkan ternyata tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang selama ini diteriakinya, dimakinya dan juga dikritisinya. Kebohongan demi kebohongan dipertontonkan dihadapan rakyat untuk berkelit dan dengan bangga Nazaruddin sang Ketua KPU mengatakan, “sesama bus kota tidak boleh saling mendahului”. Apakah ini perkataan seorang intelektual kampus? Ternyata Nazaruddin berpola pikir yang tidak jauh berbeda dengan supir bus kota. Bagi sang supir jalan raya adalah nenek moyangnya sehingga bisa mengebut sesuka hati tanpa memperhatikan rambu dan peraturan lalu lintas. Bagi sang supir penumpangnya adalah barang dan hewan yang tidak memerlukan kenyamanan sehingga bisa ditumpuk-tumpuk sampai sesak nafas. Bagi sang supir setoran adalah utama sebab dari sanalah sumber hidup mereka. Ternyata supir bus kota lebih mulya karena mereka hidup dari tetesan kringat halal daripada seorang Nazaruddin dengan segudang keilmuan yang dimiliki tapi diperuntukkan untuk menyalahgunakan uang rakyat. Disisi lain terlihat tidak sedikitpun ada bias terkejut, sedih, terpukul dan malu pada saat kita mencermati wawancara media eletronik dengan anak dan istri Nazaruddin. Semua terkesan biasa saja, tak terlihat ada masalah dan memandang ini sebuah aib memalukan jika nanti terbukti bersalah. Tidak jauh berbeda dengan Nazaruddin tengok pula tingkah laku putri Mulya W Kusumah yang dengan tanpa malu, segan dan berdosa berlagak bak selebritis memberikan berbagai tanggapan kepada wartawan atas nama bapaknya. Apa dia sudah kehilangan urat malu? Apa yang dihadapi bapaknya bukan aib sehingga tidak sedikitpun tersirat beban diwajahnya. Memang bangsa ini lagi sakit parah, dimana penjahat dijadikan pahlawan karena selama ini sering berteriak tentang kebenaran. Belum lagi kasus KPU ditingkat pusat selesai, kita dihidangkan dengan kenyataan Ketua KPUD DKI M Taufik juga dijadikan tersangka korupsi dana APBD DKI Jakarta dan APBN untuk Pemilu 2004, tak tanggung-tanggung dugaan korupsi ditaksir puluhan miliar rupiah dan juga penggelapan pajak sebesar Rp. 4,2 miliar. Timbul sebuah pertanyaan besar hari ini, keinginan pribadi KPUD Se-Indonesia menjadi penjamin Nazaruddin dan Mulyana apakah berangkat dari kesadaran hukum atau solidaritas semata dengan niat membela kolega yang lagi menderita dan berhimpun bersama saling membela sebab mereka juga rentan dengan kasus serupa dan cemas menunggu borok terbingkar saja, seperti yang sudah dialami M. Taufik dari KPU DKI. Saya punya keyakinan hal yang sama juga akan ditemui di BUMN yang mana pejabatnya sedang diperiksa. Besar harapan kita gerakan membuka borok tindak pidana korupsi ini bukan program politik sesaat, sebab sangat terasa banyak tindak pidana korupsi yang mengendap dan terhenti sebab pelakunya berjamaah, saling berkoordinasi dan saling melindungi. Memberantas korupsi dinegeri ini sebenarnya tidak susah, sebab buktinya sudah banyak terpampang didepan mata. Mengapa orang berebut jadi pegawai negeri karena disana gaji kecil tapi jika berada ditempat basah bisa membeli semua keinginan hati. Dimana tempat yang basah? Biasanya pegawai pajak, dispenda, beacukai, kehutanan, kehakiman, dll. Di institusi yang kita paparkan diatas memberikan rezeki siluman yang berasal dari negari antah berantah. Dengan posisi dan jabatan banyak pejabat pemerintah dan negara leluasa melakukan kegiatan memperkaya diri. Tak jarang gologan rendah memiliki rumah mentereng, mobil dua tiga dan berlian bergelantungan dileher anak istri. Kalau mau jujur kita tinggal buka berapa sih gaji pegawai negeri? Untuk golongan IV saja jika hidup dengan uang halal tidak akan bisa hidup mewah dengan mobil terbaru dua dan tiga biji. Memberikan hukum berat terhadap pelaku tindak korupsi adalah solusi terbaik untuk memberikan efek jera. Pembatasan hak-hak politik juga perlu ditegaskan sehingga tidak ada kesempatan mantan koruptor dan penjahat jadi pejabat dinegeri ini.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda